Minggu, 25 Juli 2010

CONTOH KARYA ILMIAH

Berikut ini contoh karya ilmiah hasil karya Zunanik, Zuhriah, Ziah

PEMANFAATAN DAUN MIMBA (Azzadirachta indica Juss), TEMBAKAU (Nicotiana tabacum), GADUNG (Dioscorea hispida), JERINGAU (Acorus calamus Rumph) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata Linn) SEBAGAI

ALTERNATIF PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK

PADA TANAMAN CABAI MERAH

KARYA ILMIAH

Ditulis untuk mengikuti lomba Karya Ilmiah Tingkat Provinsi di Universitas Trunojoyo

Logo SMA copy

OLEH:

Kholidah Ziah (4240)

Zuhriyatul Lathifah (4310)

Zunanik Mufidah (4311)

LEMBAGA PENDIDIKAN MA ARIF NU

SMA WACHID HASJIM MADURAN

Alamat : Jalan Raya 32 Parengan Maduran Lamongan.

Telp./fax. (0322)392587. Kode Pos. 62261

Maret 2010


HALAMAN PENGESAHAN

Karya ilmiah yang berjudul “Pemanfaatan Daun Mimba (Azzadirachta indica Juss), Tembakau (Nicotiana tabacum), Gadung (Dioscorea hispida), Jeringau (Acorus calamus Rumph) dan Daun Sirsak (Annona muricata Linn) sebagai alternatif pembuatan pestisida organik pada Tanaman Cabai” telah disahkan pada:

Hari : Selasa

Tanggal : 23 Maret 2010

Pembina I : Poni Kurnia Dewi, S.Si

(…………………………..)

NIP: -

Pembina II : Rasmian, S.Pd

(…………………………..)

NIP: 19710317 200604 1 017

Mengetahui

Kepala Sekolah SMA Wachid Hasjim Maduran

Muzakin, S.Pd

ABSTRAK

Ziah, Kholidah. Zuhriatul Lathifah. Zunanik Mufidah. “Pemanfaatan Daun Mimba (Azzadirachta indica Juss), Tembakau (Nicotiana tabacum), Gadung (Dioscorea hispida), Jeringau (Acorus calamus Rumph), Daun Sirsak (Annona muricata Linn) sebagai Pestisida Organik pada Tanaman Cabai. Pembina: Rasmian, S.Pd.

Kata Kunci : Daun mimba, tembakau, gadung, jeringau, daun Sirsak dan pestisida organik.

Sebagian besar penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani sebanyak 60%, dan sektor pertanian menjadi faktor yang sangat penting terhadap ekonomi makro bangsa Indonesia, selain itu banyak sekali faktor yang mendorong kemajuan dari pertanian salah satu diantaranya adalah penggunaan pestisida. Dari penggunaan pestisida kimia banyak sekali menimbulkan dampak negatif baik untuk ekosistem maupun konsumen.

Dari permasalahan inilah dibutuhkan sebuah penyelesaian, dan penulis membuat suatu pemecahan dengan menemukan penemuan baru dengan membuat pestisida organik yang berbahan dasar dari bahan organik pula. Dari penelitian ini yang dijadikan sebagai rumusan masalah adalah “apakah daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), daun sirsak (Annona muricata Linn) dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembuatan pestisida organik pada tanaman cabai merah?” Sehingga mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah daun tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pestidida organik pada tanaman cabai merah. Dan dibatasi pada bahan yang digunakan sebagai pestisida organik yang hanya terdapat di Kecamatan Maduran, untuk tanaman cabai dan ulat grayak terdapat di desa Pangean Kecamatan Maduran, Lamongan.

Dalam penelitian ini dilakukan di Labolatorium Biologi SMA Wachid Hasjim Maduran selama 22 hari mulai tanggal 01-22 Maret 2010 dengan metode observasi berjenis eksperimen yang berskala Labolatoris yang terbagi menjadi dua desain yaitu kelompok yang diberi perlakuan dan tidak. Insrtumen penelitian setiap larutan kosentrasi yang berbeda (25%, 50%, 75% dan 100%) dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali pada waktu yang berbeda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh daun mimba, tembakau, gadung, jeringau, sirsak di Kecamatan Maduran Lamongan dan sampel dalam penelitian ini adalah 24 gram daun mimba, 5 gram tembakau, 24 gram gadung, 5 gram jeringau, 24 gram sirsak di desa Parengan Kecamatan Maduran Lamongan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok yang tidak diberi perlakuan, ulat masih tetap hidup dan pada kelompok yang diberi pestisida organik, ulat mati pada menit yang berbeda sesuai dengan konsentrasi larutan, semakin besar kosentrasi larutan semakin cepat ulat mati.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daun mimba, tembakau, gadung, jeringau, sirsak dapat digunakan sebagai pestisida organik pada tanaman cabai merah.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas petunjuk dan bimbingan-Nya kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.

Penelitian ini sangat penting bagi kami. Disamping dapat menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, melalui penelitian ini, kami juga dapat berlatih menjadi insan peneliti di masa depan.

Bagaimanapun hasilnya masih sangat sederhana, karya ilmiah ini dapat terselesaikan berkat bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Muzakin, S.Pd selaku kapala SMA Wachid Hasjim Maduran

2. Ibu Poni Kurnia Dewi, S.Si selaku Guru Pembimbing I

3. Bapak Rasmian, S.Pd selaku Guru Pembimbing II

4. Teman-teman kelas XI yang memberikan bantuan dan motivasi untuk menyelesaikan Karya Ilmiah ini

5. Dan segenap pihak yang tidak mungkin penulis sebut satu persatu

Kami selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membaca karya tulis ilmiah kami. Semoga karya tulis ilmiah ini bisa bermanfaat.

Maduran, 23 Maret 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………….……………………………… i

Halaman Pengesahan………………………………................................... ii Abstrak………………………………………………………...……….… iii

Kata Pengantar……………………………………..………...................... iv

Daftar Isi………………………………………………………………….. v

BAB I : PENDAHULUAN

A. LatarBelakang Masalah…………………………...……… 1

B. Rumusan Masalah………………………….…………….. 2

C. Tujuan Penelitian…………………...………..…………… 3

D. Manfaat Penelitian…………..…………………………….. 3

E. Batasan Masalah…………………………………………... 3

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A. Macam-macam pestisida yang digunakan sebagai

pestisida organik…………………………………………. 4

1. Daun Mimba (Azzadirachta indica Juss)…………….. 4

2. Tembakau (Nicotiana tabacum)……………………… 7

3. Gadung (Dioscorea hispida)…………………………. 8

4. Jeringau (Acorus calamus Rumph)…………………… 9

5. Daun Sirsak (Annona muricata Linn)………………… 10

6. Ecotan………………………………………………… 11

B. Pestisida…………………………………………………… 12

1. Pengertian…………………………………………….. 12

2. Jenis Racun Pestisida………………………………… 12

3. Macam Pestisida……………………………………… 13

C. Tanaman cabai……………………………………………. 14

1. Macam-macam Cabai………………………………… 14

2. Budidaya Cabai………………………………………. 15

3. Kandugan…………………………………………….. 16

D. Hama…………………………………………………….. 16

1. Pengertian……………………………………………. 16

2. Jenis Ulat yang Terdapat pada Tanbaman Cabai……. 16

BAB III : METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian…………….......................... 19

B. Metode Penelitian………………………………………… 20

C. Jenis Penelitian…………………………………………… 20

D. Desain Penelitian…………………………………………. 20

E. Variabel Penelitian………………………………………... 22

F. Populasi dan Sampel Penelitian…………………………... 22

G. Instrumen Penelitian……………………………………… 23

H. Prosedur Penelitian………………………………………. 24

1. Proses Pembuatan……………………………………. 24

2. Pengaplikasian Pestisida Organik pada Ulat Grayak… 25

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian………………………………………….. 26

B. Analisis Data……………………………………………. 39

BAB V :PENUTUP

A. Kesimpulan………………..…………………..…………. 42

B. Saran……………………………………..………………. 42

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar pekerjaan rakyat Indonesia adalah petani yang mencapai 60%, 40% lebih dari petani hidup di bawah garis kemiskinan, sedangkan 50% lebih lainnya tergolong miskin. Karena itu, sektor pertanian menjadi penting dan peningkatan pendapatan petani akan berdampak secara langsung terhadap ekonomi makro bangsa Indonesia. (Tim PT. Pertani Indo Makmur 2009: 02)
Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi, ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama pada padi. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah dan kehilangan hasil karena hama dapat ditekan. (http://biotis.co.id)
Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Dari penggunaan pestisida kimia banyak sekali menimbulkan dampak negatif terutama keracunan, seperti yang dialami Indonesia juga kasus keracunan antara lain di Kulon Progo terdapat 210 kasus keracunan dengan pemeriksaan fisik dan klinis, 50 orang diantaranya diperiksa di Laboratorium dengan hasil 15 orang (30 %) keracunan. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak negatif akibat penggunaan pestisida kimia, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. (Handojo, Dwi. 2009: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah)
Dari permasalahan tersebut, dibutuhkan adanya pemecahan masalah yang dapat meringankan beban permasalahan para petani. Salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan beralih dari penggunaan pestisida kimia ke pestisida organik yang alami dan ramah lingkungan.
Hasil laporan dari berbagai propinsi di Indonesia menyebutkan lebih 40 jenis tumbuhan berpotensi sebagai pestisida organik. (Direktorat BPTP dan Ditjenbun, 2008). Hamid dan Nuryani (1992), mencatat di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk ditemukannya famili tumbuhan yang baru. Didasari oleh banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida organik sebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.
Daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), daun sirsak (Annona muricata) adalah salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di daerah Maduran, dan dianggap tidak bermanfaat karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan kandungan tumbuhan ini.
Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk berperan serta dalam menanggulangi masalah pestisida kimia di atas, yaitu dengan membuat pestisida yang berasal dari bahan alami yang ramah lingkungan dan tidak mempunyai efek samping.

B. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dijadikan objek pembahasan dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), daun sirsak (Annona muricata) dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembuatan pestisida organik pada tanaman cabai merah?.





C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ingin mengetahui apakah daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), sirsak (Annona muricata Linn) dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembuatan pestisida organik pada tanaman cabai merah.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Pemerintah dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk pembuatan pestisida organik guna mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak negatif bagi lingkungan maupun masyarakat.
2. Bagi Masyarakat petani untuk memberikan informasi baru tentang penggunaan pestisida organik yang ramah lingkungan.
3. Bagi Penulis untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di kelasuntuk diterapkan pada karya ilmiah dan dapat dijadikan sebagai sebuah informasi baru yang dapat diambil manfaatnya.

E. Batasan Masalah
1. Penelitian ini hanya di batasi pada daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), sirsak (Annona muricata Linn) di Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan.
2. Dalam penelitian ini hama yang digunakan adalah ulat grayak (Spodoptera litura Fabicius) yang hidup pada tanaman cabai merah di desa Pangean Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan.



BAB II
DASAR TEORI

A. Macam-macam Tumbuhan yang digunakan sebagai Pestisida Organik
1. Daun Mimba (Azzadirachta indica Juss)
a. Morfologi Tanaman
Tanaman (Azadirachta indica Juss). Merupakan pohon yang tingi batangnya dapat mencapai 20 m. Kulit tebal, batang agak kasar, daun menyirip genap, dan berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi dan runcing, sedangkan buahnya merupakan buah batu dengan panjang 1 cm. Buah mimba dihasilkan dalam satu sampai dua kali setahun, berbentuk oval, bila masak daging buahnya berwarna kuning, biji ditutupi kulit keras berwarna coklat dan didalamnya melekat kulit buah berwarna putih. Batangnya agak bengkok dan pendek, oleh karena itu kayunya tidak terdapat dalam ukuran besar. (Heyne. 1997)
(http://ccrcfamasiugm.wordpress.com)
Daun mimba tersusun spiralis, mengumpul di ujung rantai, merupakan daun majemuk menyirip genap. Anak daun berjumlah genap diujung tangkai, dengan jumlah helaian 8-16, tepi daun bergerigi, bergigi, beringgit, helaian daun tipis seperti kulit dan mudah layu. Bangun anak daun memanjang sampai setengah lancet, pangkal anak daun runcing, ujung anak daun runcing dan setengah meruncing, gandul atau sedikit berambut. Panjang anak daun 3-10,5 cm. (Backer dan Van der Brink. 1965: 4) (http://ccrcfamasiugm.wordpress.com)






b. Klasifikasi Tanaman
Daun mimba (Azadirachta indica Juss) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Anak kelas : Dialypetaleae
Bangsa : Rutales
Suku : Meliaceae
(http://ccrcfamasiugm.wordpress.com)
c. Pemerian Daun
1. Organoleptis
Daun mimba (Azadirachta indica Juss) berbau lemah dan mempunyai rasa pahit
2. Makroskopis
Helaian anak daun berwarna coklat kehijauan, bentuk bundar telur memanjanga tidak setangkup sampai serupa bentuk bulan sabit agak melengkung, panjang helaian daun 5 cm, lebar 3 cm sampai 4 cm. Ujung daun meruncing, pangkal daun miring, tepi daun bergerigi kasar. Tulang daun menyirip, tulang cabang utama umumnya hampir sejajar satu dengan lainnya.



3. Mikroskopi
Pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari satu lapis sel. Epidermis bawah terdiri dari satu lapis sel, rambut penutup terdiri dari satu sel panjang agak bergelombang, dinding tipis, ujung runcing. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari dua lapis sel silindris ramping. Di dalam sel palissade terdapat hablur kalsium oksalat bentuk roset, kadang-kadang dalam satu sel terdapat beberapa hablur, jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk hampir bulat, rongga udara besar, di dalam jaringan bunga karang terdapat ruang sekresi dan hablur kalsium oksalat bentuk roset. Berkas pembuluh tipe bikolateral dikelilingi serabut, pada parenkim berkas pembuluh terdapat sel berisi hablur kalsium oksalat bentuk roset dan kadang-kadang berbentuk prisma. Pada sayatan paradermal tampak sel epidermis atas dan sel epidermis bawah berbentuk poligonal dengan dinding antiklinal lurus, stomata tipe anomositik, hanya terdapat pada epidermis bawah.
4. Kandungan
Daun mimba (Azzadirachta indica Juss) mengandung senyawa-senyawa diantaranya adalah sitosterol, hyperoside, nimbolide, quercetin, quercitrin, Melantriol, rutin, azadirachtin, Salanin dan nimbine. Beberapa diantaranya diungkapkan memiliki aktivitas antikanker (Duke, 1992). Daun Mimba mengandung nimbin, nimbine, 6-desacetylbimbine, nimbolide dan quercetin. (Neem Foundation, 1997).
(http://ccrcfamasiugm.wordpress.com)




Kandungan dari daun mimba yang paling kuat untuk membunuh hama adalah:
a. Azadirachtin yang dikandung mimba berperan sebagai ecdyon blocker atau zat yang dapat menghambat kerja hormon ecdyson, yaitu suatu hormon yang berfungsi dalam proses metamorfosa serangga. Biasanya kegagalan dalam proses metamorfosa sering kali mengakibatkan kematian.
b. Salanin berperan sebagai penurun nafsu makan (antifeedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun, walaupun serangganya sendiri belum mati.
c. Melantriol berperan sebagai penghalau (repplent) yang mengakibatkan hama serangga enggan mendekati zat tersebut.
d. Nimbin dan nimbidin berperan sebagai anti mikro organisme seperti anti virus, bakterisida, dan fungisida yang sangat bermanfaat untuk digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman. (http://petanidesa.files.wordpress.com)

2. Tembakau (Nicotiana tabacum)
a. Pengertian
Tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari genus Nicotiana. Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Tembakau)
b. Kandungan
Tembakau (Nicotiana tabacum) senyawa yang ditemukan adalah Nikotin. Daun tembakau kering mengandung 2-8% nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf bereaksi sangat cepat. (http://id.wikipedia.org/wiki/Nikotina)

Nikotina memiliki daya karsinogenik yang menyebabkan penyakit kanker. Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) (bahasa Inggris: deoxyribo nucleic acid) dalam sel-sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Karsinogen). Kandungan nikotina yang terdapat pada tembakau yang dijadikan sebagai bahan pestisida organik dapat mematikan ulat grayak secara kontak.

3. Gadung (Dioscorea hispida)
a. Pengertian
Gadung memiliki bentuk semak, menjalar, permukaan batang halus, berduri, warna hijau keputihan. Daun tunggal, lonjong, berseling, ujung lancip, pangkal tumpul, warna hijau. Perbungaan bentuk tandan, ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota hijau kemerahan. Buah bulat setelah tua biru kehitaman. Biji bentuk ginjal. Bagian yang digunakan rimpang. (http://www.iptek.net.id)
b. Kandungan
Gadung (Dioscorea hispida). Mengandung HCN (Asam sianida) dioscorine (racun penyebab kejang), saponin, amilum, CaC204, antidotum, (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Alkaloid dioskorina, diosgenina, furanoid norditerpena, zat pati, dan tanin. (http://www.iptek.net.id)
Kandungan HCN pada gadung bervariasi, namun diperkirakan rata-rata dalam gadung yang menyebabkan keracunan di atas 50 mg/kg. HCN dihasilkan oleh gadung jika gadung tersebut dihancurkan, dikunyah, diiris, atau diolah. Jika dicerna HCN sangat cepat terserap oleh alat pencernaan masuk ke dalam saluran darah dan terikat bersama oksigen. Bahaya HCN pada kesehatan terutama pada sistem pernapasan, di mana oksigen dalam darah terikat oleh senyawa HCN dan terganggunya sistem pernapasan (sulit bernapas). Tergantung jumlah yang dikonsumsi, HCN dapat menyebabkan kematian jika pada dosis 0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan (Winarno, 1997).(ttp://www.wawasandigital.com)
Kandungan HCN yang terdapat pada gadung yang dijadikan sebagai bahan pestisida organik dapat mematikan ulat grayak secara kontak.

4. Jeringau (Acorus calamus Rumph)
a. Pengertian
Jeringau (Acorus calamus Rumph) adalah tumbuhan terna yang rimpangnya dijadikan bahan obat-obatan. Tumbuhan ini berbentuk mirip rumput, tetapi tinggi, menyukai tanah basah dengan daun dan rimpang yang beraroma kuat. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jeringau)
b. Kandungan
Jeringau (Acorus calamus Rumph) mengandung eugenol, asarilaldehid, asaron (alfa dan beta asoran), kalameon, kalamediol, isokalamendiol, presokalmendiol, akorenin, akonin, akoragermakon, akolamonin, isoakolamin, siobunin, isosiobunin, dan epi-siobnin. Selain astiri, jeringau juga mengandung resin, amilum, dan tannin. (sumber: republika online, selasa 05 agustus 2003)
Kandungan dari Jeringau yang dominan untuk membunuh hama adalah rimpangnya yang mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga serta Eugenol. Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol. Jeringau dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyaw fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkeh kering, sehingga sering menjadi komponen untuk menyegarkan mulut. Senyawa ini dipakai dalam industri parfum, penyedap, minyak atsiri, dan farmasi sebagai pencuci hama dan pembius local. (http://id.wikipedia.org/wiki/Eugenol)

5. Sirsak (Annona muricata Linn)
a. Klasifikasi
Sirsak (Anona muricata Linn) berasal dari Amerika Selatan. Tanaman sirsak dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Polycarpiceae
Famili : Annonaceae
Genus : Annona
Species : Anona muricata Linn. (http://agribisnis.deptan.go.id)



b. Kandungan
Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Kurniadhi, 2001). Ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama belalang dan hama-hama lainnya. (Kardinan. 2000: 6) (http://digilib.itb.ac.id)
6. Ecotan
a. Pengertian
Ecotan yang dicampur dengan pestisida, akan lebih efektif karena Ecotan dilengkapi dengan Enzim sebagai katalisator organik yang dapat meningkatkan kinerja pestisida. Disamping itu Ecotan dilengkapi dengan Chellate yang berfungsi sebagai buffer/penyangga pH larutan, karena mampu menetralisir radikal-radikal bebas. (Tim PT. Pertani Indo Makmur 2009:10)
b. Komposisi Ecotan
Terbuat dari saripati tumbuhan dan air mineral alam yang bermanfaat untuk tanaman padi, hortikultura, palawija dan tanaman lainnya secara menakjubkan, dengan biaya yang murah dan menguntungkan petani. Salah satu keunggulan caiaran Ecotan adalah seluruh bahan baku berasal dari dalam negeri. Adapun kompisisi Ecotan dapat dilihat dalam tabel 1, adalah:

Tabel 1
Komposisi Ecotan
Kandungan Prosentase (%)
Enzim Hayati 27
Chellate Hayati 31
Substrat/Bio Nutrisi M.O 35
Vitamin dan Garam Elektrolit 7
Total 100
(Tim PT. Pertani Indo Makmur 2009:03)
B. Pestisida
1. Pengertian
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun".
( PT. Biotis Agrindo - Trust and Commitment )

2. Jenis racun Pestisida
Pestisida dari segi racunnya dibedakan atas:
a. Racun Sistemik, artinya dapat diserap melalui system organisme. Misalnya melalui akar atau daun kemudian diserap kedalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan peracunan bagi hama.
b. Racun kontak, artinya langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula sel pada serangga terkena cairan pestisida dengan selang beberapa waktu setelah penyemprotan ulat mati. (http://www.scribd.com/)

3. Macam-Macam Pestisida
a. Pestisida Anorganik
Pestisida Anorganik adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama.(http://emirgarden.com)
b. Pestisda Organik
Pestisida organik adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pestisida organik ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya. (Dinas Pertanian dan Kehutanan. 2007: 3)
Secara umum pestisida organik diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, dan aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang. (Rukmana. 1994: 1)









C. Tanaman Cabai
1. Macam-Macam Cabai
a. Cabai Merah
Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai (http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai).
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur) (http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai).

b. Cabai Rawit
Cabai rawit atau cabe rawit, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit).
Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya lebih kecil dari pada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50.000-100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit).
c. Cabai Jawa
Cabai jawa, cabe jamu, lada panjang, atau cabe saja (Piper retrofractum Vahl. syn. P. longum) adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Dikenal pula sebagai cabe solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600 m di atas permukaan laut). (http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe_jawa)
2. Budidaya Cabai
1. Pemilihan Bibit
a. Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus.
b. Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari).
2. Cara Tanam
a. Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
b. Plastik polibag dilepas.
c. Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram dengan air.
3. Pengamatan Hama
a. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang.
b. Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabicus), ciri ulat yang baru menetas atau masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut atau badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian kemudian Semprot dengan pestisida organik.
3. Kandungan
Buah cabai mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotic. (http://www.iptek.net.id)

D. Hama
1. Pengertian
Hama adalah hewan yang merusak tanaman atau hasil tanaman karena aktifitas hidupnya, terutama aktifitas untuk memperoleh makanan. Hama tanaman memiliki kemampuan merusak yang sangat hebat. Akibatnya tanaman dapat rusak atau bahkan tidak dapat menghasilkan sama sekali. Hama tanaman berupa serangga misalnya wereng, kutu daun, walang sangit, belalang, berbagai ulat dan berbagai kumbang dan juga hewan mamalia tapi diantara hama tersebut yang paling menimbulkan kerugian besar pada tanaman adalah kelompok serangga. (Tim Bina Karya Tani. 2009: 63)

2. Jenis Ulat yang Terdapat pada Tanaman Cabai
a. Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabicius)
1. Pengertian
Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabicius) memakan daun dan buah cabai. Serangannya ditandai dengan daun-daun yang lerlihat agak berwarna putih, pada tahap yang lanjut daun menjadi gundul atau daging daun habis dimakan, rusaknya daun menyebabkan proses fotosintesis terhambat dan berdampak terhadap produksi cabai. Ulat ini sangat rakus terutama larva instar kelima atau keenam. Warna larva berfariasi, dari coklat kehitaman hingga putih kehitaman
Menurut sumber yang berbeda, Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabicus), Ciri ulat yang baru menetas atau masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut atau badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar.
(http://teknis-budidaya.blogspot.com/)

2. Siklus Hidup Ulat Grayak
Ulat grayak yang telah disemprot dengan pestisida dan selanjutnya pestisida menginfeksi sel-sel yang rentan. Ulat yang terinfeksi pestisida akan mengalami gejala abnormal secara morfologis, fisiologis dan perilakunya. Secara morfologis, hemolimfa ulat yang semula jernih berubah keruh dan secara fisiologis, ulat tampak berminyak dan perubahan warna tubuh menjadi pucat kemerahan, terutama bagian perut. Sedangkan secara perilaku, ulat cenderung merayap ke pucuk tanaman, yang kemudian mati dalam keadaan menggantung dengan kaki semunya pada bagian tanaman.Permukaan kulit ulat akan mengalami perubahan warna dari pucat mengkilap pada awal terinfeksi kemudian akan menghitam dan hancur. Apabila tersentuh, tubuh ulat akan mengeluarkan cairan kental berbau seperti nanah yang berisi partikel virus. Sebelum mati ulat masih dapat merusak tanaman, namun kerusakan yang diakibatkan ulat yang sudah terinfeksi sangat rendah, karena terjadi penurunan kemampuan makan dari ulat grayak sampai 84 %. (http://www.pertaniansehat.or.id)




Cara kerja pestisia organik menginfeksi ulat grayak











(http://www.pertaniansehat.or.id)

b. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon )
Aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. (http://teknis-budidaya.blogspot.com/)





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian di lakukan di Laboratorium Kimia SMA Wachid Hasjim Maduran dan Labolatorium sawah di desa Pangean Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan. Penelitian di lakukan pada tanggal 1-22 Maret 2010 dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 2
Jadwal Kegiatan Tempat Penelitian
No. Waktu Tempat Keterangan
1 1 Maret 2010 Kecamatan Maduran Mengambil bahan-bahan (Daun mimba, tembakau, gadung , jeringau, sirsak)
2 2-6 Maret 2010 Laboratorium Biologi SMA Wachid Hasjim Maduran, Lamongan. Membuat pestisida organik
3 7-10 Maret 2010 Laboratorium Biologi SMA Wachid Hasjim Maduran, Lamongan. Pengamatan aplikasi ulat grayak pada tanaman cabai
4 11-12 Maret 2010 Laboratorium Perpustakaan SMA Wachid Hasjim Maduran, Lamongan. Studi literatur
5 13-22 Maret 2010 Laboratorium Komputer SMA Wachid Hasjim Maduran, Lamongan. Pengolahan data hasil penelitian dan studi literatur
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang di lakukan adalah dengan observasi atau pengamatan di Laboratorium, di sawah dan studi literatur di Perpustakaan.
C. Jenis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah di ajukan oleh peneliti maka jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen yang berskala Laboratories.
D. Desain Penelitian

Tanpa Perlakuan
X X

Di beri pestisida organik
X Y
Keterangan :
X = Tanaman Cabai dalam polibag tanpa diberi pestisida organik.
Y = Tanaman Cabai dalam polibag dengan diberi pestisida organik.



Tabel 3
Desain Penelitian
Desain T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 T12
X1
X2
X3
X4
X5

X1, 2, 3, 4 dan 5 = Tanaman cabai dalam polibag diberi pestisida dengan kosentrasi 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%.
T1, 2, sampai Tn = Selang waktu setiap 30 menit.

Tabel 4
Format Tabel pengamatan
No Waktu Perlakuan
1 T 1
2 T2
3 T3
4 T4
5 T5
6 T6
7 T7
8 T8
9 T9
10 T10
11 T11
12 T12














T = selang waktu penelitian setiap 30 menit
E. Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang merupakan akibat dari keberadaannya tergantung dengan variabel lain. (Arikunto, Suharsimi. 1998:25)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tanaman cabai merah dan ulat gayak pada tanaman cabai merah.

2. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya terdapat terdapat variabel terikat. (Arikunto, Suharsimi. 1998:25)
Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian pestisida organik dan konsentrasi larutan pestisida.

3. Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dijaga supaya tidak mempengaruhi penelitian. (Arikunto, Suharsimi. 1998:26)
Dalam penelitian ini variabel kontrolnya adalah volume pestisida organik.
F. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. (Arikunto, Suharsimi. 1998:25)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), sirsak (Annona muricata Linn) di Kecamatan Maduran Lamongan.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili obyek. (Arikunto, Suharsimi. 1998:26)
Sampel dalam penelitian ini adalah 24 gram daun mimba (Azzadirachta indica Juss), 5 gram tembakau (Nicotiana tabacum), 24 gram gadung (Dioscorea hispida), 5 gram jeringau (Acorus calamus Rumph), 24 gram sirsak (Annona muricata Linn) dan di Kecamatan Maduran Lamongan.
G. Instrumen Penelitian
1. Alat yang di gunakan dalam pembuatan pestisida adalah:
Tabel 5
No Alat Jumlah
1 Bak plastik besar 1
2 Gayung 1
3 Blender 1
4 Sarangan/Kain saring 1 m

5 Gelas ukur 2
6 Corong 2
7 Insektarium 5
8 Botol penyemprot 1
Alat Pembuatan Pestisida












2. Bahan yang Digunakan dalam Pembuatan Pestisida adalah :
No. Bahan Jumlah
1 Daum mimbo 24 gram
2 Daun jeringau 5 gram
3 Daun sirsak 24 gram
4 Gadung 24 gram
5 Tembakau susur 5 gram
6 Ecotan 5 ml
7 Air 1 liter
Tabel 6
Bahan Pembuatan Pestisida






3. Alat yang Digunakan dalam Pengaplikasian
a. Insektarium
b. Botol penyemprot
4. Bahan yang Digunakan dalam Pengaplikasian
a. Pestisida organik
b. Tanaman cabai
c. Ulat grayak
H. Prosedur Penelitian
1. Proses Pembuatan
a. Proses Penghalusan Bahan.
1. Daun mimbo, jeringau, sirsak, di haluskan menggunakan blender.
2. Gadung dicuci sampai bersih, setelah itu diiris kecil – kecil untuk mempermudah penghaluskan dengan menggunakan blender.

b. Proses Pelarutan Bahan – bahan
Setelah bahan – bahan dihaluskan setelah itu seluruh bahan pembuat pestisida di larutkan dengan 1 liter air di dalam bak plastik besar dan rendam selama 3 hari. Setelah itu tambahkan 5 ml ecotan sebagai penunjang pestisida organik diamkan selama 24 jam kemudian di saring.
c. Proses Penyaringan
1. Setelah semua bahan di campurkan dan di direndam selama 4 hari, selanjutnya seluruh bahan disaring menggunakan kain saring untuk memisahkan antara bahan serat daun dengan cairan pestisida.
2. Setelah terpisah, siapkan 1 bak besar sebagai tempat pestisida yang sudah disaring tadi.
2. Pengaplikasian pestisida organik pada ulat grayak
a. Siapkan 13 buah insektarium yang masing-masing telah berisi 1 tanaman cabai.
b. Beri label pada masing-masing insektarium sesuai dengan yang diinginkan
c. Insektarium pertama berisi 1 tanaman cabai dan 3 ekor ulat grayak saja.
d. Insektarium ketiga sampai keempat masing-masing berisi 1 tanamam cabai, 3 ekor ulat grayak dan disemprot dengan 25% larutan pestisida organik yaitu 25 ml pestisida organik dan 75% air yaitu 75 ml air sebanyak 10 ml.
e. Insektarium kelima sampai ketujuh berisi masing-masing 1 tanaman cabai, 3 ekor ulat grayak dan disemprot dengan 50% pestisida organik yaitu 50 ml pestisida organik dan 50% air yaitu 50 ml air sebanyak 10 ml.
f. Insektarium kedelapan sampai kesepuluh masing-masing berisi 1 tanamam cabai, 3 ekor ulat grayak dan disemprot dengan 75% pestisida organik yaitu 75 ml pestisida organik dan 25% air yaitu 25 ml air sebanyak 10 ml.
g. Insektarium kesebelas sampai ketigabelas masing-masing berisi 1 tanamam cabai, 3 ekor ulat grayak dan disemprot dengan 100% pestisida organik yaitu 100 ml pestisida organik sebanyak 10 ml.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
1. Proses Pengamatan
Pengamatan terhadap tiga ulat grayak yang di masukkan ke dalam insektarium yang telah berisi satu tanaman cabai merah dalam polibag.
a. Pada percobaan pertama yaitu satu tanaman cabai dan diberi 3 ekor ulat grayak dengan kondisi yang sama di masukkan ke dalam insektarium dan tidak disemprot dengan pestisida.
Tabel 7
Ulat Grayak di dalam Insektarium pada Pengamatan Pertama, Kedua dan Ketiga
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak dengan memakan daun cabai yang ada
6 180 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
7 210 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
8 240 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
9 270 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
10 300 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
11 330 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak
12 360 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak









b. Pengamatan terhadap 3 ulat grayak yang di masukkan ke dalam insektarium kemudian disemprot dengan 25 ml pestisida organik yang sudah dilarutkan dengan 75 ml air suling, sebanyak 10 ml.
Tabel 8
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 25% Pertama
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
6 180 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
7 210 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
8 240 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
11 330 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
12 360 menit Seluruh ulat mati













Tabel 9
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 25% Kedua
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
6 180 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
7 210 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
8 240 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
11 330 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati





Tabel 10
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 25% Ketiga
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
6 180 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
7 210 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat \mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
11 330 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati
















c. Pengamatan terhadap 3 ulat grayak yang di masukkan ke dalam insektarium kemudian disemprot dengan 50 ml pestisida organik yang sudah dilarutkan dengan 50 ml air suling, sebanyak 10 ml.
Tabel 11
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 50% Pertama
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
6 180 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati













Tabel 12
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 50% Kedua
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
6 180 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
7 210 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati






Tabel 13
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 50% Ketiga
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
5 150 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
6 180 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati
















b. Pengamatan terhadap 3 ulat grayak yang di masukkan ke dalam insektarium kemudian disemprot dengan 75 ml pestisida organik yang sudah dilarutkan dengan 25 ml air suling, sebanyak 10 ml.
Tabel 14
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 75% Pertama
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
5 150 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Seluruh ulat sudah mati
10 300menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati




Tabel 15
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 75% Kedua
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
5 150 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Dua ulat mati, satuulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Seluruh ulat sudah mati
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati






Tabel 16
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 75% Ketiga
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas masih memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
5 150 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
8 240 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
9 270 menit Seluruh ulat sudah mati
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati





e. Pengamatan terhadap 3 ulat grayak yang di masukkan ke dalam insektarium kemudian disemprot dengan 75 ml pestisida organik yang sudah dilarutkan dengan 25 ml air suling, sebanyak 10 ml.
Tabel 17
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 100% Pertama
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
4 120 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
5 150 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
7 210 menit Seluruh ulat sudah mati
8 240 menit Seluruh ulat sudah mati
9 270 menit Seluruh ulat sudah mati
10 300 menit Seluruh ulat sudah mati
11 330 menit Seluruh ulat sudah mati
12 360 menit Seluruh ulat sudah mati




Tabel 18
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 100% Kedua
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
4 120 menit Satu ulat mati, dua ulat yang lain bergerak lambat
5 150 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Seluruh ulat mati
7 210 menit Seluruh ulat mati
8 240 menit Seluruh ulat mati
9 270 menit Seluruh ulat mati
10 300 menit Seluruh ulat mati
11 330 menit Seluruh ulat mati
12 360 menit Seluruh ulat mati







Tabel 19
Pengamatan pada Ulat Grayak di Dalam Insektarium dan Disemprot dengan Larutan Pestisida 100% Ketiga
No Waktu Perlakuan
1 30 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas
2 60 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak bebas dengan memakan daun cabai
3 90 menit Seluruh ulat masih hidup dan bergerak lambat
4 120 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
5 150 menit Dua ulat mati, satu ulat yang lain bergerak lambat
6 180 menit Seluruh ulat mati
7 210 menit Seluruh ulat mati
8 240 menit Seluruh ulat mati
9 270 menit Seluruh ulat mati
10 300 menit Seluruh ulat mati
11 330 menit Seluruh ulat mati
12 360 menit Seluruh ulat mati







B. Analisa Data
Dari hasil data pada tabel 7 pengamatan pertama tanpa pemberian pestisida menunjukkan bahwa seluruh ulat masih hidup sampai menit ke-330.
Pada tabel 8 pengamatan kedua yaitu disemprot dengan larutan pestisida 25% pada pengujian pertama, menunjukkan pada menit ke-150 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-240 satu ulat mati kemudian pada menit ke-270 dua ulat mati dan pada menit ke- 360 seluruh ulat mati.
Pada tabel 9 pengamatan ketiga yaitu disemprot dengan larutan pestisida 25% pada pengujian kedua, menunjukkan pada menit ke-180 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-240 satu ulat mati kemudian pada menit ke-270 dua ulat mati dan pada menit ke- 360 seluruh ulat mati.
Pada tabel 10 pengamatan keempat yaitu disemprot dengan larutan pestisida 25% pada pengujian ketiga, menunjukkan pada menit ke-210 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-240 dua ulat mati dan pada menit ke-360 seluruh ulat mati.
Pada tabel 11 pengamatan kelima yaitu disemprot dengan larutan pestisida 50% pada pengujian pertama, menunjukkan pada menit ke-150 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-180 satu ulat mati kemudian pada menit ke-210 dua ulat mati dan pada menit ke-300 seluruh ulat mati.
Pada tabel 12 pengamatan keenam yaitu disemprot dengan larutan pestisida 50% pada pengujian kedua, menunjukkan pada menit ke-150 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-210 satu ulat mati kemudian pada menit ke-240 dua ulat mati dan pada menit ke-300 seluruh ulat mati.
Pada tabel 13 pengamatan ketujuh yaitu disemprot dengan larutan pestisida 50% pada pengujian ketiga, menunjukkan pada menit ke-150 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-180 satu ulat mati kemudian pada menit ke-210 dua ulat mati dan pada menit ke-300 seluruh ulat mati.
Pada tabel 14 pengamatan kedelapan yaitu disemprot dengan larutan pestisida 75% pada pengujian pertama, menunjukkan pada menit ke-120 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-150 satu ulat mati kemudian pada menit ke-180 dua ulat mati dan pada menit ke-270 seluruh ulat mati.
Pada tabel 15 pengamatan kesembilan disemprot dengan larutan pestisida 75% pada pengujian kedua, menunjukkan pada menit ke-120 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-150 satu ulat mati, kemudian pada menit ke-210 dua ulat mati dan pada menit ke-270 seluruh ulat mati.
Pada tabel 16 pengamatan kesepuluh disemprot dengan larutan pestisida 75% pada pengujian ketiga, menunjukkan pada menit ke-120 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-150 satu ulat mati dan pada menit ke-270 seluruh ulat mati.
Pada tabel 17 pengamatan kesebelas disemprot dengan larutan pestisida 100% pada pengujian pertama, menunjukkan pada menit ke-120 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-150 dua ulat mati dan pada menit ke-210 seluruh ulat mati.
Pada tabel 18 pengamatan keduabelas disemprot dengan larutan pestisida 100% pada pengujian kedua, menunjukkan pada menit ke-90 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-120 satu ulat mati kemudian pada menit ke-150 dua ulat mati dan pada menit ke-180 seluruh ulat mati.
Pada tabel 19 pengamatan ketigabelas disemprot dengan larutan pestisida 100% pada pengujian ketiga, menunjukkan pada menit ke-90 ulat masih hidup dan bergerak lambat, pada menit ke-120 dua ulat mati dan pada menit ke-180 seluruh ulat mati.
Dari analisis dapat dijelaskan bahwa penyemprotan pestisida dengan kosentrasi 25% seluruh ulat mati pada menit ke ke-360, sedangkan pada kosentrasi 50%, seluruh ulat mati pada menit ke-300, begitu pula dengan kosentrasi 75% seluruh ulat menit ke-270 dan dengan menggunakan kosentrasi 100% ulat dapat mati pada menit ke-180.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penyemprotan atau pemberian pestisida organik pada tanaman cabai yang terdapat ulat grayak dengan kosentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% dapat membunuh ulat grayak dengan waktu yang berbeda. Semakin besar kosentrasi yang diberikan semakin cepat pula ulat mati. Hal tersebut terjadi karena racun yang terkandung dalam pestisida organik dapat membunuh ulat grayak secara kontak yaitu mati karena sel atau organ yang terdapat pada ulat terserang oleh bahan-bahan yang aktif atau yang dikandung dalam pestisida organik.









BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mempelajari dari bab III sampai IV dapat disimpulkan bahwa daun mimba (Azzadirachta indica Juss), tembakau (Nicotiana tabacum), gadung (Dioscorea hispida), jeringau (Acorus calamus Rumph), sirsak (Annona muricata Linn) dapat digunakan sebagai pestisida organik pada tanaman cabai merah.

B. Saran
Adapun saran dalam penelitian ini dapat diperoleh saran dari berbagai segi antara lain:
1. Segi pemerintah
a. Pemerintah agar lebih merespon dan memperhatikan pestisida organik sebagai penyelamat ekosistem.
b. Pemerintah dapat mendukung dan merespon adanya pestisida dari bahan-bahan organik.
2. Segi Petani
a. Petani harus memperhatikan dampak yang ditimbulkan pestisida kimia.
b. Petani harus lebih mempercayai pestisida organik sebagai pembasmi hama.
3. Segi Penulis
a. Kami menyadari bahwa penelitian ini banyak sekali kekurangan oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui hasil yang lebih baik.
b. Kami mengharap kritik dan saran dari semua pihak untuk memperbaiki karya kami.

Sabtu, 13 Juni 2009

LOMBA MENULIS ESAI DAN CERPEN

AJB Bumiputera Gelar Lomba Penulisan Esai dan Cerpen


Dalam rangka memeringati hari ulang tahunnya yang ke-97, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), mengundang masyarakat umum, terutama para pencinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Esai” dan “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).”

Lomba Penulisan Esai
Topik : “Asuransi dan Saya”
Persyaratan Peserta :
Para blogger di seluruh Indonesia;
Memiliki blog pribadi selama minimal 3 bulan per Maret 2009;
Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.

Pelaksanaan Lomba :
Esai ditulis di masing-masing blog pada periode April - Juni 2009.
Alamat blog (URL) yang memuat artikel tersebut dikirimkan via email ke pihak panitia (Bumiputera): komunikasi@bumiputera.com.
Tulisan tersebut akan diunduh oleh Pantiia, dan kemudian akan dilakukan penilaian oleh Dewan Juri.

Ketentuan Lomba :
Esai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan masyarakat, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
Setiap karya wajib menyebutkan kata “AJB Bumiputera 1912″ sedikitnya satu kali.
Bentuk tulisan berupa esai dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
Esai harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
Esai belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
Tulisan tidak mengandung SARA.
Esai yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di http://www.bumiputera.com/ dan website panitia di http://www.bumiputeramenulis.com/
Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.

Tata Cara Pengiriman Esai :

1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu esai;
2. Panjang tulisan tidak dilakukan pembatasan.

***

Lomba Penulisan Cerpen:
Topik : “Sosial, Human Interest”
Persyaratan Peserta :
Masyarakat umum, warga negara Indonesia.
Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).
Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.

Ketentuan Lomba :
Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
Cerpen tidak mengandung SARA.
Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB Bumiputera 1912″ sedikitnya satu kali.
Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.
Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
Cerpen ditunggu paling lambat tanggal 30 Juni 2009 pukul 24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman melalui pos.
Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di http://www.bumiputera.com/ dan website panitia di http://www.bumiputeramenulis.com/
Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.

Tata Cara Pengiriman Cerpen :
Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;
Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumiputera.com atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat: Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910

Jumat, 30 Mei 2008

Cerpen

Malam Sepi
Oleh : Rasmian

SMA Wachid Hasjim Maduran Lamongan Jawa Timur

Malam ini sepi. Tak ada suara jengkrik bersahutan. Tak ada anjing menggonggong. Tak ada langkah kaki melintas di jalan-jalan aspal. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bisanya tiap malam anjing peliharaan rumah sebelah selalu berkali-kali meraung. Pertanda ia mencium bau manusia yang tak dikenalnya. Mungkin saja ia senang, sebab jika tak ada sesuatu yang mencurigakan berarti ia bisa pulas tidur dan beristirahat. Menikmati malam dengan penuh kepuasan. Sebab esok hari anjing-anjing tersebut masih terus berjaga demi keselamatan sang majikan.

Berbeda dengan nasib anjing tersebut, Pak Darno malam ini tidak dapat memejamkan matanya. Entah karena memang suasana sepi, atau karena udara yang gerah sehingga mata sulit diajak kompromi. Hembusan angin yang enggan menyapa kulit, memang membuat udara menjadi sangat panas. Keringat bercucuran tak mau berhenti.
Tapi bukan karena itu Pak Darno tidak dapat tidur. Terlintas di pelupuk matanya rencana yang besar berputar-putar. Berulang-ulang melintas entah berapa kali. Sebuah rencana ambisius yang harus segera dikerjakan. Sebab jika saja rencana tersebut gagal, maka Pak Darno akan kehilangan muka. Bagaimana masyarakat menilai Pak Darno. Apalagi dihadapan menantunya, serta besannnya.

“ Ini adalah kesempatan baik buatku”, gumam Pak Darno berkali-kali. “Tapi perlukah saya melakukan itu”?, bisik hati Pak Darno di sisi lain. “ Bukankah ia anak yang kubanggakan, ia telah membantu hidupku selama ini. Jika tak ada ia, bisakah aku mencukupi kebutuahan keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya”? Justru karena itulah aku harus melakukan.
“Bagaimana Pak Wahyudi nanti melihatku. Pastilah ia marah kepadaku. Aku orang tua yang tidak dapat mendidik anak-anakku. Aku orang tua yang tolol dan gagal menjadi orang tua. Jika saja aku dituntut untuk mengembalikan semua yang diberikan kepadaku dari mana aku dapat mengembalikannya.

“ Yudi, Yudi “?, kata Pak Darno berulang kali.
Sampai Pak Darno harus mengambil keputusan. “ Ya, aku harus bertindak tegas dan mengakhiri drama ini selekas mugkin agar hidupku terlepas dari dosa” katanya menyakinkan diri.
Dengan sekejap ia telah meluncur ke belakang rumah dan kembali ke ruang keluarga berukuran 3 x 4 meter itu. Di atas sofa empuk yang dibeli Wahyudi setahun yang lalu kembali ia menyakinkan diri. Keyakinannya telah mantap. Ia berjalan ke ruang tamu, kembali ke ruang keluarga, lantas masuk dapur. Sesekali pandangannya celingak- celinguk. Beberapa kali candela dibuka dan ditutup menanti kedatangan Yunita.
Seperti hari-hari bisanya Yunita malam ini telah pergi. Entah kemana ia. Tak ada sepatah katapun terucap kepada suaminya atau Bapaknya, atau ibunya. Tetapi tanpa pamitan pun mereka faham ke mana Yunita pergi malam ini.
Pak Darno pun faham akan hal itu. Tapi ia tak memiliki kekuatan untuk melarang. Sudah terlanjur. Nasi udah menjadi bubur. Tak lagi bisa dikembalikan ke asalnya.
Pak Darno tidak memiliki kekuatan untuk melarang Yunita pergi atau ia tidak mau melarang. Tidak ia tidak seperti itu. Dalam hatinya yang paling dalam ia tidak setuju. Selalu muncul dalam fikirannya untuk menghentikan tabiat Yunita itu, tapi Bu Yatmin selalu melarangnya. “Biarkan saja toh ia tidak mengapa-mengapa”, demikian kata Bu Yatmin jika pak Darno bicara soal nasib anaknya akhir-akhir ini.

“Itu dulu tak mengapa-mengapa” gumam Pak Darno menyela pikirannya teringat ucapan Bu Yatmin. “ Sekarang telah ada hasilnya. Semua orang tahu, tetangga tahu, teman dekat saya tahu, teman Pak Wahyudi tahu, bahkan mungkin murid Pak Wahyudi pun tahu. Siapa yang tidak tahu bahwa ah, itu bukan dari hasil suaminya. Ini semua kesalahanku. Aku harus menebus kesalahan ini. Mumpung tak ada lagi yang bisa menghalangi langkahku. Tidak juga Ibumu.
Bertahun- tahun ibumu telah menggelabuhi menantunya dan ini kesalahanku. Aku tak kuasa menghentikannya. Bukan karena aku tak bisa menjadi kepala keluarga. Tapi Ibu selalu beralasan ini menguntungkan kita. Memang sejak Yunita berhubungan dengan Yanto uang belanja ibumu meningkat. Jika saja Yanto datang pasti ia meninggalkan uang belanja. Tidak saja uang belanja tapi uang untuk membeli perabotan rumah. “Meski kita tidak punya rumah kita harus segera menabung membeli perabotan, nanti kalau semua sudah cukup kita akan beli rumah , kita pindah, perabotan hasil pembelian kita pindah ke rumah kita, dan kita dapat hidup bebas tidak bersama anak cucu. Aku malu kalau kita selalu di sini” , demikian alasan Ibu tidak melarang Yanto datang ke rumah jika suami Yunita tidak ada di rumah.
Tidak salah, beberapa bulan terakhir ini Ibu Yatmin telah membeli TV 21”, VCD player, buffet, kompor gas, rice cooker, dan entah apa lagi yang semuanya sebenarnya sudah ada di rumah itu. Pakiannya pun gonta-ganti, layaknya seorag penyanyi yang saban hari show sehingga harus berganti-ganti pakaian agar penonton tidak bosan melihatnya. Beli pakaian pun tak mau di Lamongan, mesti pergi ke Surabaya. Di sana juga tidak akan ke Pasar Turi, Pabean atau Kapasan, paling jelek di JMP.

Tadi pagi sang Ibu juga pergi tanpa aku. Padahal ia tahu bahwa keadaan di rumah sudah tak menentu. Wahyudi jarang pulang siang. Jangankan pulang siang, sore pun tak pernah. Ia selalu datang malam hari. Paling cepat pukul 09.00 malam. Itu pun selalu terdengar suara bentakan- atau tangisan istri atau anaknya.
Suatu ketika pertengkaran Yunita dan suaminya tidak dapat dihindari lagi. Mungkin suaminya telah memendam kemarahan sejak lama. Sebagai lelaki harga dirinya telah diinjak-injak.
Pak Darno mengintip dari belakang, mendengarkan kisah tersebut. Sayup-sayup terdengar suara Pak Wahyudi. “ Memangnya apa yang kau dapat dari dia”, ucap Pak Wahyudi keras. “Apa kau tidak melihat, aku mebanting tulang untuk siapa? Aku cukup sabar mendengar tingkahmu selama ini. Tapi engkau malah pergi dari rumah. Pulang malam, memang aku tidak tahu apa yang kau lakukan. Aku tahu semuanya. Hari Rabu, 11 Desember kemarin kau di mana. Dua hari kemudian setengah delapan siapa yang menjemputmu dan pergi ke Surabya hingga larut malam. Apa yang kau perbuat. Jadi itu hasil didikan Ibumu. Siapa yang membelikan TV, kulkas ibu itu”, ucap Pak Wahyudi berapi-api. Seakan ia tak melihat lagi di depannya adalah istri dambaannya.
Tiba-tiba saja Pak Wahyudi terdiam.Ia ingat bangaimana perjuangan mendapatkan istrinya. Ia ingat bagaimana ibunya menasehati, melarang percintaannya dengan Yunita. Pertengkaran itu tiba-tiba berhenti begitu saja sebab Sang suami membanting daun pintu dan keluar rumah.
Malam begitu larut.

Sementara Yunita hanya menangis, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Seakan ia mengiyakan semua yang diucapkan suaminya. Raut mukanya masam. Wajahnya yang oval, kulitnya yang kuning langsat bersih tak kelihatan dapat menambah kecantikannnya. Dibalik wajahnya yang sayu terpendam kisah panjang berumah tangga dengan Pak Wahyudi.
Pak Darno memandangi putri sulungnya dengan penuh iba, tapi geregetan. Dibalik rasa iba, terlintas ada bayangan sang Istri. Ini semua gara-gara kamu ibu. Mengapa kau selalu menghitung semuanya dengan uang.
“Bagaimana kabarnya Nak Guru”?, demikian Bu Yatmin kerap memanggil Pak Wahyudi saat belum menjadi menantunya. Panggilan yang mesra penuh hormat. Saban hari Pak wahyudi pun akhirnya sering berkunjung ke rumah keluarga Bu Yatmin. Bermain catur, atau sekedar ngobro-ngobrol. Maklum saja di desa itu Pak Wahyudi adalah anak kos-kosan. Di rumah kos tak ada siapa-siapa yang dapat diajak bicara. Untuk menghilangkan rasa kangen dengan keluarga Nganjuk Pak Wahyudi memang sering melampiaskannya dengan bermain ke banyak tetangga. Dari situlah ia mendapat banyak teman.Selain untuk menghela rasa kangen, bertemu tetangga juga dapat dipakai untuk meyalurkan hobinya bermain catur, voli dan sepak bola bersama anak-anak kampung.

Kepada keluarga Bu Yatmin Pak Wahyudi selalu menaruh hormat. Keluarga ini dianggap sebagai saudara. Tiap kali Pak Wahyudi datang selalu disambut dengan ramah oleh semua anggota keluarga. Bu Yatmin terutama, meski ibu empat anak ini tidak dapat bermain catur, tetapi beliau sering nimbrung dan tak jarang menyuguhi kopi atau makanan kecil—singkong, ketela rambat, jagung rebus atau apa saja yang ada. Tak jarang sampai membelikan makanan kecil tersebut di warung kecil di dekat rumah Bu Yatmin.
Suatu saat melintas gadis usia SMA di tengah permaianan catur antara Pak Wahudi dengan Pak Darno. “ Sekak”, kata Pak Darno mengejutkan. Tapi Pak Wahyudi tidak bereaksi. Pandangan mata Pak Wahyudi setengah ke papan catur, setengah gadis mungil itu. “ Sekak”, kembali Pak Darno mengulang serangannya. Pak Wahyudi tidak bereaksi. Pak Darno melirik Pak Wahyudi. Ia tahu Pak Wahyudi tidak konsentrasi ke papan catur, tetapi kepada anak gadisnya. Kali ini ia pura-pura tidak tahu, “ Ayo ini sekak, masak tidak menyerah kau”, suara Pak Darno untuk yang ketiga kalinya. Pak Wahyudi pun tersentak kaget, “OK siapa yang kalah, belum apa-apa ini, lihat balasan saya”, demikian Pak Wahyudi menyembunyikan rasa kagetnya.
“ Pak Wahyudi, tolong Dong Yuni diantar ke Garuda entar malam ada film bagus lo Pak”, pinta Yunita suatu saat. Entah mengapa aku seperti kerbau dicocok hidungnya. Aku menurut saja diajak Yunita. Padahal jarak desa tempat kosku dengan Babat di mana gedung tua yang di setting sebagi gedung film di kota Babat hampir berjarak 30 km. Aku juga heran mengapa Pak Darno seakan tanpa beban melepas kepergian kami malam itu. Dan kami pun sampai di Babat. Di sana kami nonton film India. Entah apa judulnya. Aku tak begitu konsentrasi melihat. Kami mencoba ngobrol layaknya muda-mudi yang sedang kasmaran padahal kami baru saja kenal.
“Ah, astagfirullah”, Pak Wahyudi tersentak dari tidurnya malam itu. “Banyak bayangan di otakku”, keluhnya. “ Mengapa aku jadi mimpi tentang gadis itu”, gumamnya sambil bergeliat dan lantas berjalan menuju belakang untuk ambil air wudhu. Rupanya aku baru sadar malam ini aku belum sholat Isya’.

Mimpi Pak Wahyudi seperti aja petunjuk. Sebab sore itu Yunita datang ke rumah di antar sang ayah. Ia datang untuk meminjam buku sejarah. Katanya, ada PR dari gurunnya yang tak bisa dikerjakannya.

Hari-hari berikutnya seakan pertemuan sudah diatur saja. Jam, hari dan mungkin acara yang hamper sama mereka jalani. Tak pernah ada janji, tapi mereka sepakat untuk ketemu.
Hubungan mereka berlanjut.

‘’ Ibu-ibu?”, mengapa kau dari dulu tak berubah. Tiba-tiba Pak Darno teringat istrinya.
“Kamu belum punya siapa-siapa kan?”, tanya Bu Yatmin kepada suatu malam. Belum sempat dijawab Yunita, Bu Yatmin menimpali kalimat, “Kalau kau cari calon suami carilah yang udah mapan. Sudah penghasilan tetap, dan cari yang dewasa agar dapat membibimngmu. Orang yang sudah mapan pekerjaannya akan membuat kehidupan kluarga tenang. Sebagai istri kamu juga tenang, tidak memikirkan sana sini”.

“ Saya kira Pak Wahyudi pantas dan dialah orang yang paling cocok buatmu. Demikian Bu Yatmin menasehati anaknya.
Yunita bukan gadis yang bertipe agresif. Ia tidak dapat mengelak saran dan perintah ibunya. Padahal ia telah memilih Anton untuk menemani jalan hidupnya kelak.
Apapun acara yang dibuat Yunita dengan Pak Wahyudi adalah saran dan perintah ibunya. Suatu misal Yunita jalan-jalan ke Mall di Surabaya adalah atas ini siatif Bu Yatmin. Yunita nonton ke Garuda Babat juga atas saran dan perintah ibunya. Tapi entah mengapa Yunita dapat menikmati perintah itu.

Ada kekuatan dahsyat menjadikan Yunita sanggup menjalani hubungan dengan Pak Wahyudi.Rasa takut masuk neraka jika membantah perintah ibu. Demikian Yunita beralasan mengapa ia berpacaran dengan lelaki dewasa ketika ditanya teman SMA-nya. Jauh di lubuk hatinya Anton adalah alternatif kebahagiaan remaja yang sedang berpacaran. Meski telah menjalin ikatan dengan Pak Wahyudi ia tak pernah melepas Anton.
Suatu saat Yunita pergi tanpa Pak Wahyudi ke Waduk Gondang. Sudah menjadi rutinitas pengelola waduk tiap akhir tahun mengelar acara menjelang tahun baru dengan berbagai pertunjukan. Tahun ini, pengelola Waduk Gondang menghadirkan penyanyi nasional Nidji. Tak pernah dilewatkan Yunita acara-acara seperti itu di waduk ini. Dan kepergian Yunita kali ini tidak bersama Pak Wahyudi melainkan bersama Anton kekasihnya.
Tak percaya dengan ijin Yunita, Pak Wahyudi membuntuti Yunita. Betapa kagetnya Pak Wahyudi melihat kekasihnya dapat lebih mesra dibandingkan dengannya. Tak tahan melihat kekasihnya bersama orang lain Pak Wahyudi puang dengan kesal.

Kali ini Pak Wahyudi dapat memaafkan hal tersebut.
Tetapi ternyata hal tersebut tidak hanya dilakukan satu dua kali oleh Yunita. Sering kali. Pak Wahyudi jadi kesal, “Bagaimana mengatasi hal ini”. ” Aku harus segera bermusyawarah dengan Bu Yatmin’’, tiba-tiba muncul ide dalam pikirannya.
“ Rasanya saya sulit menceritakan hal ini, tapi saya harus bercerita pada Ibu”, demikian ia mengawali perbincangan itu pada sang calon mertua.
“Apa yang terjadi? Ceritakan saja, jangan sungkan-sungkan, jika saja saya mampu pasti akan saya bantu”, jawab Bu Yatmin di dampingi Pak Darno.
Dengan sedikit malu Pak Wahyudi mengawali cerita tentang kisah calon istrinya. Dalam sekejab suasana menjadi hening. Tak ada suara. Mereka seakan saling berfikir dan menunggu apa yang akan diceritakan Pak Wahyudi, sementara Pak Wahyudi ancang-ancang kalimat apa yang pertama akan muncul dari mulutnya.

Tiba-tiba kepala Pak Darno terasa berat. Ada beban mendengar semua kisah anaknnya.
“ Walah anakku, mengapa kamu seperti aku, tidak kuasa menolak skenario-skenario yang di buat ibumu. Bukankan kau udah punya suami yang setia, baik, cekatan dan selama ini telah membantu kehidupan kita”, lagi-lagi Pak Darto berguam. Kali ini ia kaget hentakan kucing yang jatuh dari atap rumah dan saling bekejaran.

Ya, malam agak dingin mugkin saja kucing itu kesepian. Lama tidak berjumpa suaminya. Kerinduan yang mendalam dengan orang yang dicintainya membuat ia tak menghiraukan lagi lingkungannya. Mereka tidak melihat lagi apakah yang dilakukannya itu mengganggu orang lain, membuat gaduh suasana. Atau bahkan kucing itu baru saja kenal, tidak mahramya, tapi berbut nekat begitu saja. Bercumbu, berkejaran di hadapan orang. Memang ia tak tahu malu.
“Apakah itu seperti anakku”, Pak Darno menghela nafas panjang. “ Bukan, bukan seperti kucing itu. Kucing itu boleh-boleh saja begitu. Sebab ia diciptakan oleh Allah untuk melestarikan ekosistemnya. Ia tidak punya tugas lain kecuali beranak agar habitatnya tidak punah. Sebab kepunahan habitat kucing mengakibatkan ekosistem tidak seimbang. Coba saja kucing punah, siapa yang akan memakan tikus-tikus itu? Ular, ular juga sudah jarang ditemui. Maka tikus akan merajalela yang mengakibatkan petani akan bisa merugi karena sawahnya dibabat tikus semalaman.”

“Tapi Yunita tidak seperti itu. Ia memiliki akal, mimiliki hati, memiliki empati yang berbeda degan si kucing tadi. Meski tidak tamat perguruan tinggi karena terburu menikah, setidaknya ia punya ijazah SMA. Sudah cukup bekal baginya untuk mengerti hidup. Memahami keadaan keluarga, memahami suaminya yang setiap hari bekerja. Pagi berangkat sore bahkan malam baru pulang semua kembali kepada Yunita.” Kali ini Pak Darno mengelus dadanya.
Pak Darno memang sangat hormat pada menantunya. Betapa hormatnya ia kepada menantunya itu, sampai-sampai ia memanggil lelaki yang umurnya separuh lebih muda daripadanya, lelaki yang melahirkan cucu pertamanya itu dengan sebutan Pak. Dalam suatu kesempatan Pak Darno bersama menantunya di Dispenda Kabupaten menyebut lelaki bertubuh kekar itu Pak Zudi. Kepala Dispenda kaget bukan main. “ Siapa ia?”, Tanya Kepala Dispenda kepada Pak Darno. Pak Darno belum sempat membalas pertanyaan tersebut, Pak kepala Dispenda kembali bertanya, “Bukankah ia Pak Wahyudi guru SMP Negeri Babat itu”. “ Bukankah beliau anak menantu Bapak”, kembali Pak Kepala Dispenda menegaskan pertanyaannya. Pak Darno hanya tersenyum menjawab pertanyaan atasanya itu.

Ternyata Pak kepala Dispenda hafal benar dengan Wahyudi. Ia memang guru teladan tahun lalu. Tak hanya Pak Kepala Dispenda saja yang hafal dengan Wahyudi, Pak Kepala Dinas Pendidikan, Ketua DPRD bahkan Pak Bupati pun kenal. Pak Wahyudi memang aktif dalam kegiatan di sekolah.. Apapun bentuk kegiatan di sekolahnya ia selalu ada dan mejadi bagian dari kegiatan tersebut mulai dari kegiatan OSIS, kegiatan kepramukaan, PMR juga bisa. Dalam hal pembangunan fisik sekolah ialah yang membuat proposal, kadang menjadi pelaksana sampai pelaporannya.

Di mata murid-muridnya Pak Wahyudi juga dipandang sebagai guru yang perhatian. Jika saja ada siswanya yang tidak masuk sekolah selalu ditanyakan kemana siswa A, kemana siswa B. Bahkan tidak hanya itu, sering Pak Wahyudi keluar masuk kampug menjenguk siswanya yang sakit atau yang tidak masuk sekolah.
Meski ia guru Sejarah tapi Pak Wahyudi juga bisa olah raga. Olah raga yang paling disukainya adalah sepak bola. Tak heran jika ia juga dipercaya untuk melatih sepak bola prestasi bagi siswa-siswanya. Terakhir ia mndapat kepercanyaan dari Bupati untuk menjadi manager sepak bola anak Kab. Lamongan.
Dalam masyarakat lingkungan RT 4, RW 1 di kampungnya ia mendapat kepercayaan sebagai ketua RT. Bagi warganya ia dikenal orang yang sopan dan penuh perhatian dengan warga sekitar. Sekiranya tetangga ada yang mendapat kesulitan apapun bentuknya tak segan-segan ia menawarkan jasa utuk membantunya.

Selama hampir sepuluh tahun ia telah menjadi bagian keluarga Pak Darno. Tak heran mertuanya sangat menaruh hormat. Sebagian besar kebutuhan keuangan keluarga mulai kebutuhan anak, istri sampai mertua menjadi tanggungannya. Entah mengapa demikian.
Menurut cerita tetangga, sejak muda Pak Darno dan Istri tergolong keluarga yang tidak dapat manajemen keuangan dengan baik. Masak seorang pegawa negeri, punya jabatan di pemerintahan sampai usia pensiunannya kurang 54 gajian kok belum punya rumah, celakanya masih menumpang menantunya. Anak-anaknya pun tak ada yang sekolah sampai tinggi, paling SMA udah.

“Tapi ayah itu masih baik ya” kata Pak Wahyudi pada istrinya dalam suatu kesempatan. “Meski beliau begitu tak seperpun uang tetangga dihutangnya. Hutang kepada toko pun tak pernah. Paling-paling hutang uang KPN atau Bank.” “ Ya dan gajinya nol,nol dan makannya numpang kita, demikian Yuita menimpali sanjungan suaminya kepada ayah tercinta dengan muka sinis dan cemberut.

Dalam beberapa hentakan di kepala Pak Darno terlintas besannya di Kota Batu. Selama mejadi besan Pak Darno hanya sekali ke sana. Itu pun dilakukan saat lamaran anaknya.
Terlintas di kepala Pak Darno sebuah surat Pak Wahyudi kepada ibunya jauh sebelum lamaran itu dilaksanakan. Demikian bunyi surat itu.
‘’ Kagem Ibunda tercinta di Batu.

Ibu Ananda di Lamongan baik-baik saja. Sehat dan sejahtera. Semoga Ibu di Batu tercinta dalam keadaan sehat dan masih mendapat lindungan Allah Swt. Bagaimana cuaca Batu saat ini? Masihkah seperti Nanda masih kecil?
Ibu, sebagaimana pesan Ibu akhirnya Nanda memutuskan untuk segera menikah. Ibu jangan kaget sebab Nanda baru memberi kabar. Insya’Allah calon menantu Ibu cocok bergaul dengan Ibu.
Siapa dia? Ibu penasaran ya?
Namanya Yunita. Ia baru saja menamatkan SMA tahun ini. Anak Pak Darno pegawai Pemkot. Insya’Allah bulan tiga empat bulan mendatang ke Batu.
Restu ibu sangat Nanda harapkan.Do’akan semuannya lancer-lancar saja ya Bu.
Udah dulu Bu surat Nanda. Semoga Allah SWT meretui semua yang Nanda lakukan. Semoga pula ibu sehat-sehat selalu. …
Dua minggu setelah surat tersebut , kembali Pak Wahyudi menulis surat kepada ibunya.

Maafkan Nanda Ibu, sebab Nanda kembali menulis surat buat Ibu.
Bu, Yunita yang Nanda katakana sangat cocok dengan Ibu ternyata selingkuh. …
Usahakan dengan cara apapun ia dapat kembali kepada Nanda Ibu? Tolong Ibu. Sebab di sini semua orang sudah tahu kami akan menikah. Nanda tidak mau malu dihadapan teman-teman. Apalagi saya merasa sangat cocok dengannya.
Bantuan dan do’a Ibu sangat Nanda tunggu. …..

Demikian diantara jawaban Bu Khusnul panggilan akrab orang tua Pak Wahyudi.
Kepada Anakku Tersayang di Lamongan Batu, Agustus 1999
….
Saya senang kamu sudah punya pilihan. Saya bersyukur kamu sudah siap menikah.
Mendengar kabarmu, Ibu jadi ikut prihatin. Semoga kamu kuat! Do’a ibu selalu menyertaimu. Ibu bersama Bapak telah berunding. Jika memang kehendakmu Ibu akan selalu membantu. Tetapi ibu khawatir jangan-jangan calon istrimu nanti sulit sembuh. Artinya jika sudah bersuami denganmu bisa saja kambuh. Jadi, jika memang ada pengganti yang lebih baik, sebaiknya kamu cari ganti….
Dalam hentakan berikutnya ia bangkit semakin percaya apa yang dilakukannya sekarang benar. Maka bergegaslah menyambut Yunita pulang. Kembali telinganya dipasang, matanya melihat ke luar candela.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki di luar. “ Itu pasti dia”, pikir Pak Darno, sebab tadi dia berangkat agak pagi. Sepuluh menit setelah suaminya berangkat ke kantor. Dan sejauh ini suaminya juga belum pulang. Mungkin saja Pak Wahyudi ada lembur. Menyelesaikan proposal, atau laporan akhir semester, atau bahkan tiba-tiba Pak Karno kepala sekolahnya mengajaknya ke luar kota. Tak ada kabar soal itu.

Wajah Yunita terlihat kusut. Rambutnya tidak tertata rapi. Sorot matanya hambar dan kosong. Ia berjalan seakan tanpa kekuatan. Langkahnya gontai.
Pak Darno curiga dengan tingkah polah Yunita. Apa yang sudah dilakukan nya seharian. Melihat polah tingkah anaknya malam ini, tangan Pak Darno gemetaran.
Ditangannya terhunus sebuah pisau. Mata melotot memandangi pintu yang sebentar lagi akan dibuka Yunita.

Dalam beberapa detik Yunita melewati pintu depan rumah.
Kriyeet! Suara daun pintu dari kayu jatu tua bergetar.
Pada saat itu dihentakkan tangan Pak Darno ke perut anaknya. Pak Darno tak sadarkan diri.
Ah, malam sepi mengapa malam ini aku bermimpi buruk seperti ini.

SELESAI